Bisa, Hanya Sayangnya Tak Sanggup

Menolak sebuah pekerjaan? Dulu nggak kebayang aku bakal punya keberanian untuk menolak sebuah tawaran pekerjaan. Tapi beberapa waktu lalu sempat menolak satu-dua-dan-lebih kali pekerjaan sampingan. Bukannya tak bisa melakukan pekerjaannya, hanya saja tak bakal sanggup melakukannya.

cr: unsplash

Baru saja aku menonton ulang film The Devil Wears Prada. Dulu waktu kuliah sempat nonton film ini tapi waktu itu cuma ingetnya ini film tentang bu bos yang jahat sama asistennya, hehe. Lalu entah kenapa tadi kepikiran ingin nonton film ini dan rasanya sekarang bisa meresapi makna dan pesannya lebih dalam, ehm. Apa yang dirasakan Andy bisa benar-benar aku pahami. Untungnya aja nggak punya bos kayak Miranda, bakal stres banget kalau punya bos kayak dia.

Sejak lulus kuliah tujuh tahun lalu, aku sudah mulai kerja. Kerja kantoran, kerja freelance, kerja kantoran disambi freelance, sampai ambil cuti kerja kantoran biar bisa nyelesein kerjaan freelance (ini saking bingungnya ngatur waktu sampai akhirnya harus merelakan ambil cuti demi kerjaan yang lain, hehe).

Bulan lalu, aku sempat menolak tawaran pekerjaan freelance yang sebenarnya lumayan bisa nambah uang untuk beli pulsa dan kuota data internet. Tapi ya rasanya nggak mungkin aku mengiyakan sebuah pekerjaan tapi nggak bisa menyanggupi tuntutan harus selesai dalam waktu sekian waktu. Daripada bikin susah dan bikin masalah baru dengan rekan-yang-baik, jadi mending kusarankan pekerjaan dikerjakan sama yang lain. Dan ya sedih rasanya, semacam menolak rezeki. Nggak pernah nyangka ada keberanian untuk menolak pekerjaan yang sebenarnya bisa kulakukan tapi nggak sanggup kulakukan.

Sekitar sebulan terakhir ini, aku merasa wajahku sudah berubah kotak kayak monitor laptop. Di kantor bikin konten di depan komputer. Lalu pulang di rumah, masih menekuri laptop demi mengejar deadline yang lain. Juggling banget. Bahkan sampai pernah lembur sampai hampir jam 3 pagi demi sebuah deadline, dan paginya berangkat ke kantor dengan jiwa yang rasanya sudah hampa, hehe. Kadang jadi mikir, sebenarnya apa yang aku cari dengan bekerja ini itu. Uang kah? Kepuasan? Pencapaian? Atau cuma cari pelarian?

cr: unsplash

Bekerja dengan hati aja nggak cukup. Malah bisa sangat berisiko kalau kerjanya cuma pakai hati. Soalnya kalau sudah tersakiti dan tergores sedikit, bakal lama sembuhnya. Ouch! Bekerja dengan banyak batasan juga cukup bikin sesak. Ibaratnya disuruh menyajikan tarian yang indah dan gemulai, tapi cuma disediakan satu kotak baja 1 x 1 meter untuk tampil. Hanya saja kadang sebuah realita tak bisa dihindari, tapi harus dihadapi. Kalau nggak bisa mengubah keadaan, maka diri sendiri yang harus berubah. Mencari dan melakukan hal lain agar hidup tak terasa terbuang sia-sia.

Terkadang memang kita dihadapkan pada hal-hal yang sebenarnya bisa kita lakukan, tapi tak sanggup melakukannya. Selalu ada pertimbangan dan prioritas yang ikut dipikirkan. Dari setiap pilihan yang kita ambil pun selalu memberi konsekuensinya sendiri. Tinggal bagaimana kita bisa menerimanya.

Sejak bulan Agustus aku kecemplung ke sebuah bidang yang terbilang baru. Ada tawaran pekerjaan yang bisa kulakukan di sela-sela waktu senggang. Tapi waktu itu ada tesnya dan kudu ikut online training lintas benua (masalah mencocokkan waktu dan ambil jadwal yang tepat ini sempat bikin pusing), belum lagi dengan koneksi internet yang kadang nggak stabil. Baru sekitar 1,5 bulan kemudian baru bisa ngerjain proyek pertama. Ngerjain sendirian, masih  banyak salahnya, tapi makin dikerjakan rasanya cukup seru.

Beberapa hari sempat lembur, bahkan kebiasaan tidur larut sampai kebawa di hari-hari yang bebas lembur, hehe. Padahal aku butuh mengembalikan ritme dan pola  hidup jadi lebih sehat. Sempet berangkat ke kantor  lebih awal (jam 7 pagi), tapi yang ada malah tambah capek karena “berangkat awal-pulang awal” nggak berlaku di sini, hehe. Jadi mungkin aku bakal memanfaatkan beberapa waktu ke depan untuk lebih banyak istirahat dulu sambil mengatur prioritas dan mencoba mengambil pilihan baru. Nggak perlu memaksakan kerja terus.

Ketika hal yang kita sukai kita jadikan pekerjaan, kita harus siap menghadapi konsekuensi kalau pada saat-saat tertentu yang kita sukai bisa berubah jadi tekanan. Tak lagi menikmati prosesnya. Tak lagi puas dengan hasilnya. Tapi begitu ingin melakukan sesuatu yang beda dan lebih, tersandung dan terbentur dengan dinding-dinding yang begitu dingin. Tak bisa bekerja dengan hati karena semua yang dikerjakan dengan hati berujung memberi kekecewaan sendiri. Akhirnya cuma bisa jalan di tempat.

Mungkin ini saatnya aku mencari peluang dan celah baru menemukan sesuatu yang bisa dan sanggup kulakukan. Membuat perubahan-perubahan baru. Yang meski nggak instan, tapi bisa dilakukan pelan-pelan sambil menetapkan hati menciptakan pilihan-pilihan yang lebih besar. Atau aku kudu lebih fokus pada hal-hal yang lebih penting?

Tulisan kali ini mungkin random banget, hehe. Tapi ini caraku untuk bisa kembali mencintai sesuatu yang sebenarnya sudah lama kucintai. Tuh kan random lagi ini kata-katanya 😀

Advertisements

2 thoughts on “Bisa, Hanya Sayangnya Tak Sanggup

  1. Thats great. Aku juga sejak lulus SMK th 2013 sampe sekarang masih kerja sambil kuliah. Kerja kantoran pulangnya langsung kuliah, ngerjain tugas bisa sampe tidur 3-4 jam per hari ato bahkan gak tidur sama sekali buat ngejar deadline. Dan itu terjadi setiap hari. Sampai akhirnya memutuskan pindah kerjaan ke tempat dengan load pekerjaan yang tdk terlalu berat tapi dengan gaji yang lebih kecil. 😅 Tapi that’s all worth the sacrifice. Aku kadang jg bertanya2, apa yang aku cari? Jelas bukan uang, kepuasan? Pelarian? Aktualisasi diri?

Leave a Reply to Endah Wijayanti Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.