A Man Called Ove: Haruskah Kesepian Diakhiri Saja?

”Kita bisa menyibukkan diri dengan hidup atau mati, Ove. Kita harus melanjutkan hidup.”
(hlm. 265)

Siapa Ove? Kalau kita bertemu langsung dengan Ove untuk pertama kalinya, kita langsung merasa dia adalah sosok kakek tua yang kolot dan keras kepala. Sangat kaku dan juga nggak mau kalah. Jika Ove adalah sosok yang hitam putih, lain lagi dengan istrinya Sonja. Sonja adalah sosok yang warna-warni. Bersama Sonja, Ove bisa menemukan kebahagiaan sejatinya. Hidupnya benar-benar bahagia. Sampai sebuah kejadian yang begitu menyakitkan membuat Ove harus hidup sendiri.

Sebuah kehilangan yang teramat besar pun membuat Ove berulang kali ingin mengakhiri hidup saja. Hanya saja setiap kali ia mencoba berusaha bunuh diri, dia malah ‘menyelamatkan’ orang lain.

Semakin dalam kita mengenal Ove semakin trenyuh hati ini dibuatnya. Ternyata ada kesedihan yang begitu dalam yang disimpannya. Ada jiwa yang begitu rapuh dan penuh kerinduan.

A Man Called Ove, novel ini menggunakan alur maju dan mundur yang mengisahkan sosok Ove dari mulai remaja, hubungannya dengan sang ayah, pertemuannya dengan Sonja, dan juga hal-hal yang dialami dan dilakukannya untuk para tetangganya.

Cara Ove berinteraksi dengan tetangganya pun tak bisa dibilang ramah. Meski begitu, sosoknya tetap dekat bahkan sangat dicintai oleh tetangga dekatnya seperti Parvaneh dan Rune. Ove punya cara sendiri dalam menunjukkan kasih sayang dan perhatian. Keunikan inilah yang membuat Ove begitu disayangi oleh para tetangganya.

Kita selalu mengira masih ada cukup banyak waktu untuk melakukan segalanya bersama orang lain. Masih ada waktu untuk mengucapkan segalanya kepada mereka. Lalu terjadi sesuatu, dan kita berdiri di sana sambil menggelayuti kata-kata semacam “seandainya saja”.
(hlm. 265)

Mengikuti kisah Ove bisa membuat kita tersenyum, tertawa, tapi juga membuat perasaan jadi biru. Khususnya tentang kisahnya bersama Sonja. Tak heran jika Ove mencintai Sonja dengan tulus karena Sonja pun punya alasan-alasan yang begitu mengharukan kenapa dia sampai jatuh hati pada seorang pria yang mungkin dianggap membosankan oleh kebanyakan orang.

Pelajaran soal cinta, keluarga, pengorbanan, hingga soal melepaskan sangat kental di novel ini. Ketika sampai di bagian akhir novel, ada perasaan yang begitu menyesakkan sekaligus menghangatkan yang tertinggal. Saya sangat menyukai cerita di novel ini. Membayangkan jika ada tetangga seperti Ove di dekat kita, pria tua yang tampak begitu keras tapi punya hati yang begitu lembut rasanya membuat kita ingin bisa memeluknya setiap saat.

Judul: A Man Called Ove
Penulis: Fredrik Backman
Penerjemah: Ingrid Nimpoeno
Penyunting: Jia Effendi
Penata letak: CDDC
Perancang sampul: Muhammad Usman
Cetakan I, Januari 2016
Diterbitkan oleh Penerbit Noura Books (PT Mizan Publika)

Sebelum terlibat lebih jauh dengannya, biar kuberi tahu. Lelaki bernama Ove ini mungkin bukan tipemu.

Ove bukan tipe lelaki yang menuliskan puisi atau lagu cinta saat kencan pertama. Dia juga bukan tetangga yang akan menyambutmu di depan pagar sambil tersenyum hangat. Dia lelaki antisosial dan tidak mudah percaya kepada siapa pun.

Seumur hidup, yang dipercayainya hanya Sonja yang cantik, mencintai buku-buku, dan menyukai keujujuran Ove. Orang melihat Ove sebagai lelaki hitam-putih, sedangkan Sonja penuh warna.

Tak pernah ada yang menanyakan kehidupan Ove sebelum bertemu Sonja. Namun bila ada, dia akan menjawab bahwa dia tidak hidup. Sebab, di dunia ini yang bisa dicintainya hanya tiga hal: kebenaran, mobil Saab, dan Sonja.

Lalu… masih inginkah kau mengenal lelaki bernama Ove ini?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.