Hichki, Film India tentang Dunia Pendidikan yang Bikin Ketawa Sekaligus Banjir Air Mata

Hichki: Tak Ada Murid yang Buruk Sekalipun Mereka Nakalnya Minta Ampun

Sebagai seseorang yang bergelar sarjana pendidikan kadang saya merasa bersalah. Seharusnya saya bisa seperti teman-teman kuliah saya yang melanjutkan karier sebagai guru atau dosen. Semestinya saya bisa menjadi seorang pendidik dan mengamalkan ilmu yang saya miliki untuk mencerdaskan anak bangsa. Tapi pada kenyataannya saya malah “selingkuh” dari gelar sarjana saya dan berkarier di bidang yang berbeda. Walaupun begitu, saya masih sangat mencintai dunia pendidikan.

Berbagai isu tentang dunia pendidikan masih sering saya ikuti. Saya masih membaca buku-buku tentang pendidikan juga mengikuti berbagai film tentang pendidikan. Ya, meski memang hal itu tak bisa sepenuhnya mengatasi rasa bersalah saya yang tak mengabdikan diri sebagai pendidik, setidaknya dengan begitu saya bisa tetap menjaga semangat agar suatu hari nanti saya bisa melakukan sesuatu untuk memberi kontribusi di dunia pendidikan. Walau tak bisa dipungkiri tantangan di dunia pendidikan semakin kompleks, menjadi pendidik pun tak mudah. Apalagi kalau kasusnya seperti Naina Mathur dalam film Hichki ini. Mengidap Tourette Syndrome, jelas bukan hal mudah baginya untuk bisa mewujudkan impiannya menjadi seorang guru.

cr: BritAsia TV

Mengubah Kelemahan Jadi Kekuatan Terbesar

Sindrom Tourette (Tourette Syndrome) adalah penyakit neuropsikiatrik yang membuat seseorang mengeluarkan suara, ucapan, dan gerakan spontan tanpa bisa mengontrolnya. Saat masih kecil, Naina pernah mendapat perlakuan yang buruk oleh guru bahkan oleh ayahnya sendiri. Namun, ada sebuah momen yang kemudian jadi motivasi terbesarnya menjadi seorang guru.

Setelah mengalami banyak penolakan, Naina kemudian diterima menjadi guru di sekolah elit yang dulu juga pernah jadi tempatnya mengenyam pendidikan. Hanya saja di sini ia malah diberi tugas untuk mengajar anak-anak kelas 9F. Kalau anak-anak di kelas 9A berisi murid-murid unggulan, nah penghuni 9F ini lebih seperti gerombolan tukang pembuat onar. Bahkan guru yang sebelumnya tidak tahan dengan mereka dan memilih untuk resign. Di sini Naina menghadapi tantangan barunya. Selain harus bisa mengondisikan dirinya untuk bisa tetap mengajar dengan sindrom Tourette yang dimilikinya, ia juga punya tugas baru untuk bisa merangkul murid-murid 9F.

Di hari pertamanya mengajar, Naina sudah mendapat perlakuan buruk. Naina dikerjain dan kondisinya yang mengidap sindrom Tourette juga jadi bahan olokan. Murid-murid 9F bukanlah anak-anak biasa. Tapi di sini Naina malah menjadikan kelemahannya sebagai kekuatannya. Dia punya keyakinan bahwa tidak ada murid yang buruk. Di sinilah ia kemudian mengerahkan semua kemampuannya untuk merangkul 14 murid 9F dan meyakinkan bahwa mereka juga punya kesempatan untuk berhasil sama seperti murid-murid dari kelas lainnya.

Menghadapi 14 Anak Puber yang Labil Bikin Pusing Kepala

Film Hichki ini dibuat berdasarkan buku berjudul Front of the Class karya Brad Cohen. Front of the Class sendiri juga sudah dibuat filmnya tahun 2008 yang dibintangi oleh James Wolk yang berperan sebagai Brad Cohen. Kalau Front of the Class lebih menyoroti kisah hidup dan perjuangan Brad untuk menjadi guru dengan keterbatasannya sebagai pengidap sindrom Tourette dan mengajar anak-anak sekolah dasar, Hichki fokusnya pada perjuangan Naina untuk mendidik sekaligus merangkul 14 remaja yang menjadi muridnya di 9F.

Di balik perilaku dan sikap geng 9F yang terkenal tukang bikin onar, ternyata ada sisi lain dari kehidupan mereka yang begitu mengharukan. Terlebih anak-anak 9F itu sendiri sebenarnya bukan “penghuni asli” sekolah tersebut. Sehingga mereka juga sering merasa dianaktirikan oleh guru di sekolah itu. Naina yang paham akan kondisi tersebut semakin bertekad untuk bisa melakukan perubahan.

Hanya saja tidak mudah menghadapi 14 anak puber yang super labil dan susah diatur. Ada “ketua geng” yang sangat keras kepala, ada yang hobi main judi, ada yang bawa tikus ke kelas, dan sebagian besar merasa tak punya harapan apa-apa lagi di sekolah. Mereka pada dasarnya hanya butuh rasa percaya, baik rasa percaya dari orang lain maupun rasa percaya pada diri mereka sendiri. Naina pun melakukan berbagai usaha untuk bisa mendapatkan hati mereka. Dia pun mencoba untuk mengarahkan satu per satu muridnya untuk bisa menemukan bakatnya. Salah satunya adalah ia menyarankan sebuah peluang karier bergengsi untuk salah satu muridnya yang hobi main judi. Salut banget dengan pola pikir Naina yang selalu bisa membantu murid-muridnya untuk menemukan sisi positif dari sesuatu tanpa harus menghakimi.

cr: DNA India

Belajar Tak Harus Hanya Duduk di Dalam Kelas

Agar anak-anak 9F mau belajar, Naina mencoba berbagai metode baru dalam pengajarannya. Dia mengajak murid-muridnya belajar di halaman kelas hingga belajar sambil main basket. Berbagai ilmu sains yang tadinya begitu rumit bisa ia sampaikan dengan bahasa sederhana dan cara yang menyenangkan. Belajar tak harus hanya duduk di dalam kelas saja, karena pada kenyataannya ada banyak hal yang bisa kita pelajari di luar. Bahkan dari hal-hal yang biasa kita lakukan sehari-hari ternyata ada muatan rumus dan pelajaran tertentu.

Saya pun kemudian ingat dengan guru bahasa Indonesia saya waktu di SMP. Beliau mempunyai metode mengajar yang berbeda dari guru-guru lainnya. Kursi-kursi di dalam kelas diubah sedemikian rupa untuk menciptakan suasana belajar yang beda, juga pernah meminta murid-muridnya ke luar kelas duduk di bawah pohon untuk menulis catatan harian. Menonton film Hichki ini pun jadi menghadirkan kembali nostalgia akan sosok guru favorit yang pernah kita punya di sekolah.

Tidak Ada Murid yang Buruk, Hanya Guru yang Buruk

Mr. Wadia yang juga seorang guru di sekolah tersebut sering menentang pemikiran dan cara mengajar Naina. Dia merasa kalau murid-murid 9F itu cuma anak-anak yang suka cari perhatian dan tidak bisa diharapkan. Bahkan dia menjadi orang yang paling semangat ketika memergoki murid 9F bikin ulah sehingga dia makin punya alasan untuk menyudutkan mereka.

cr: zee news

Naina pun sempat bikin taruhan sendiri terkait anak-anak 9F. Dia punya keyakinan murid-muridnya itu punya harapan, meski dalam perjalanannya ada kejadian-kejadian yang membuat hatinya begitu hancur. Mr. Wadia bukannya membantu Naina malah tampak semakin ingin menjatuhkannya. Sampai pada satu titik ia menyadari sesuatu yang begitu pahit dalam karier mengajarnya.

Tidak ada murid yang buruk, hanya guru yang buruk. Meski menjadi guru yang baik juga banyak tantangannya. Mendidik tidak hanya sebatas menyampaikan materi. Dibutuhkan kemampuan untuk bisa merangkul dan mendapat kepercayaan dari semua murid agar kegiatan belajar mengajar berhasil. Dibutuhkan kemampuan untuk bisa membantu setiap murid kembali merasa percaya diri dan punya harapan agar semangat belajar. Tidak berlebihan rasanya kalau Hichki ini sangat cocok ditonton untuk para pendidik. Ada banyak inspirasi yang bisa ditemukan dari sosok Naina dan juga pelajaran moral penting dari yang dialami Mr. Wadia.

Menyoroti Ketimpangan Sosial di Bidang Pendidikan

Saya sangat menyukai film-film India yang bertema pendidikan. Selalu ada isu besar yang diangkat dari setiap filmnya. Masih ingat dengan 3 Idiots (2009)? Film ini juga sangat berkesan yang mengkritisi dunia pendidikan dan tekanan yang dialami generasi mudanya untuk bisa sukses dengan semua himpitan masalah yang dimiliki. Lalu ada juga Hindi Medium (2017) yang menyoroti ketimpangan yang terjadi antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Taare Zameen Par (2007) yang mengangkat soal bakat dan keistemewaan yang dimiliki anak yang dianggap bodoh juga sangat menyentuh. Nil Battey Sannata (2015) juga sangat menyentuh tentang perjuangan seorang ibu untuk bisa membuat putrinya mau sekolah agar masa depannya tidak seperti dirinya yang hanya seorang pembantu rumah tangga.

Hichki ini pun menjadi film yang berkesan dengan menyentil berbagai isu penting di dunia pendidikan yang masih terjadi hingga saat ini. Ketimpangan sosial dan tidak meratanya pendidikan disoroti di film ini. Bahkan yang digambarkan di film ini rasanya juga tak jauh berbeda dengan yang saat ini masih terjadi di Indonesia. Ada perasaan sedih, haru, dan trenyuh ketika melihat Naina menelusuri dan mengunjungi murid-muridnya di tempat tinggal mereka. Di balik kepribadian nakal dan memberontak murid-muridnya, ada kehidupan yang begitu keras yang harus mereka hadapi setiap harinya.

Hichki Menandai Kembalinya Rani Mukherji ke Dunia Perfilman

Rani Mukherji di usianya yang sudah 40 tahun ini bisa membawakan peran Naina dengan begitu apik. Kabarnya untuk bisa mendalami perannya sebagai penyandang sindrom Tourette, ia belajar langsung dari yang memiliki sindrom tersebut. Awalnya tokoh utama Hichki ini adalah laki-laki (mungkin agar sama dengan Front of the Class) tapi kemudian diganti wanita dan diperankan oleh Rani Mukherji.

Judul Hichki dicetuskan oleh filmmaker India terkenal, Aditya Chopra. Arti dari hichki kurang lebih adalah cegukan. Saat menonton film ini nanti akan tahu sendiri kenapa hichki dipilih sebagai judul yang paling mewakili isi cerita. Film ini pun menandai kembalinya Rani ke dunia perfilman setelah menikah dan menjadi ibu, mengingat film terakhirnya Mardaani rilis bulan Agustus 2014 lalu.

Siapkan Tisu untuk Menonton Film Ini Sampai Tamat

Kalau kalian termasuk orang yang gampang mewek seperti saya setiap kali menonton adegan mengharukan, wajib banget menyiapkan tisu untuk menonton film ini. Ada beberapa adegan yang begitu emosional yang membuat air mata tiba-tiba mengalir sendiri di pipi. Melihat perubahan demi perubahan yang terjadi dan dialami oleh murid-murid 9F juga bikin terharu. Bahkan sampai ending pun, air mata yang tadinya sudah menyusut eh kembali mengalir. Meski begitu, film ini juga menghadirkan cukup banyak tawa, khususnya dengan tingkah para murid 9F. Bahkan ada sejumlah adegan yang mengalirkan perasaan yang begitu hangat.

Film ini juga bisa kembali mengingatkan kita akan sosok guru yang pernah memberi pengaruh besar dalam hidup kita. Ada sisi nostalgia dan sentimentil yang akan tersentuh saat menonton film ini. Mendobrak keterbatasan dan menjadikannya kekuatan untuk kesuksesan dan keberhasilan memang bukan hal mudah, tapi bukan berarti mustahil untuk dilakukan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.