Pekerjaan

pekerjaan

Nomina (n)

  1. barang apa yang dilakukan (diperbuat, dikerjakan, dsb); tugas kewajiban; hasil bekerja; perbuatan: begitulah ~ nya sehari-hari, memelihara tanaman dan menata taman
  2. pencaharian; yang dijadikan pokok penghidupan; sesuatu yang dilakukan untuk mendapat nafkah: ia sedang berusaha mencari ~
  3. hal bekerjanya sesuatu: berkat ~ mesin baru, hasilnya sangat memuaskan
cr: unsplash

Apa pekerjaan impianmu? Dulu banget saya pernah punya bayangan pekerjaan yang membebaskan saya bekerja di ruang kerja saya sendiri. Nggak terikat jam kantor. Nggak ada status atasan dan bawahan. Kerja sendiri, dapat duit, di ruangan paling nyaman yang didesain sendiri. Hehe, kurang lebih semacam jadi freelancer.

Seminggu sebelum wisuda S1 tahun 2011 silam, saya sudah mulai kerja. Ngantor. Di kota yang jaraknya sekitar 16 jam naik kereta api dari rumah. Saat itu dikontrak 6 bulan kerja. Setelah 6 bulan kerja kemudian saya memutuskan untuk resign. Sempat diajak ngobrol sama atasan bahkan ditawari kenaikan gaji untuk terus ngantor di sana. Tapi saya tetap keukeuh resign. Saat itu memang ada banyak alasan, salah satunya ingin kerja freelance saja. Rasanya saya nggak cocok kerja kantoran, begitu pikir saya waktu itu.

Lalu nyoba kerja freelance. Praktis kerja dari rumah. Sehari-hari duduk manis di depan komputer. Mengerjakan pembuatan konten sampai menerjemahkan buku (yang kemudian nggak diterbitkan, heu). Nyambi juga jadi tutor bahasa Inggris di lembaga kursus dan juga ngasih les anak-anak tetangga. Di sela-sela itu juga nyoba ngelamar beasiswa lagi. Tapi banyak kenyataan yang kemudian nggak sesuai harapan. Mulai dari soal perasaan nggak enak sama orangtua yang sepertinya nggak “ridho” anaknya ini kerja di rumah aja (kerja kok nggak ada kantornya? gitu kira-kira pandangan bapak) juga penghasilan yang masih pas-pasan. Kemudian jadi makin terpuruk saat harus operasi usus buntu. Saat itu sudah nggak ikut asuransi kesehatan dari orangtua (mengingat usia sudah melewati batas), profesi pun freelancer dan nggak punya asuransi apa-apa, akhirnya orangtua yang harus keluar uang untuk biaya operasi dsb. Ditambah lagi dengan kegagalan beasiswa. Dari situ mulai mempertimbangkan untuk cari kerjaan kantoran.

cr: unsplash

Sebenarnya prinsip untuk cari kerjaan itu nggak muluk-muluk sih. Yang sesuai sama apa yang aku bisa. Yang sesuai dengan minat dan yang aku suka. Bahkan nggak mikirin soal jenjang karier atau promosi apa saja yang bakal didapat dari kerjaan. Tapi seiring waktu berjalan, dengan makin bertambahnya usia (alias makin tuaaa) jadi mulai merasa kalau urusan pekerjaan ini sebenarnya cukup serius. Apa iya seumur hidup aku bakal bertahan dengan satu pekerjaan ini? Apa aku bisa benar-benar tumbuh di sini? Atau aku malah terjebak di dalam pekerjaan ini seperti tahanan?

Setahun yang lalu adek lulus kuliah. Dia pun cari kerjaan kesana kemari. Beda dengan saya, adek saya ini cukup punya pertimbangan sendiri saat akan melamar pekerjaan. Dia nggak asal melamar pekerjaan. Tapi benar-benar dicari yang sesuai dengan yang ia mau dan bisa memberikan masa depan yang lebih baik. Bukan cuma berdasarkan apa yang ia suka tapi juga yang bisa membuatnya untuk terus tumbuh.

Setelah gagal beberapa kali, dia pun berhasil dapat pekerjaan yang cukup membanggakan. Bahkan ibuk sampai terharu sendiri ketika si adek dinyatakan lolos waktu itu. Meski setelah lolos masih ada beberapa tahapan yang harus ia lalui, tapi setidaknya dia sudah bisa lebih mantap membangun masa depannya lebih baik.

Ada cerita yang cukup “menggelikan” soal berhasilnya si adek dapat pekerjaannya sekarang ini. Ada sodara yang tanya ke ibuk tentang adek. Begitu diberitahu adek sekarang sudah bekerja di “situ”, si sodara malah merespon, “Habis berapa? (alias habis berapa juta sebagai pelicin bisa lolos di situ)” Aduh, si adek ini lolos benar-benar murni mengikuti serangkaian tes panjang yang ada. Mana mungkin juga nyogok karena ibuk sama bapak juga nggak punya tanah apalagi rumah untuk dijual sebagai uang pelicin. Selama sekolah sampai kuliah, ibuk sama bapak nggak pernah “ngebantu” anaknya untuk bisa lulus dengan bantuan uang pelicin. Semua murni didapat dengan mengikuti serangkaian tes yang ada. Saya sendiri pun cari pekerjaan ya hasil melamar sendiri, bukan karena ada sogokan atau bantuan uang pelicin.

cr: unsplash

Zaman sekarang lapangan pekerjaan memang banyak. Tapi belum tentu semua orang punya kualifikasi untuk bisa masuk di lapangan pekerjaan yang diinginkan. Kompetisinya pun makin ketat.

Akhir-akhir ini jadi kembali mikir soal apa sih pekerjaan ideal itu? Yang ngasih banyak uang? Yang ngasih kebahagiaan? Yang ngasih kepuasan batin? Atau yang ngasih posisi atau jabatan yang mentereng?

Saya sendiri makin sering memikirkan apakah pekerjaan yang saya punya dan tekuni ini  memang yang paling tepat? Atau justru harus keluar dari zona nyaman agar bisa tumbuh dan berkembang? Capek dan stres mungkin hal yang lumrah dirasakan di dunia kerja. Tapi kalau setiap hari jadi stres sampai akhirnya bosan merasa stres karena pekerjaan yang ditekuni, normal nggak ya?

Kadang mikir juga apakah pilihan yang kuambil ini sudah tepat. Atau seharusnya aku mengambil jalan lain untuk pekerjaan lain? Tapi bagaimana dengan kualifikasi? Bagaimana dengan usia? Memulai sesuatu yang baru jadi terasa makin menakutkan seiring dengan bertambahnya usia.

cr: unsplash

Atau mungkin kurang bersyukur? Seringkali ego ini ingin memenangkan semua hal. Ada perasaan ingin mendapat lebih dari sesuatu yang dikerjakan. Malah kadang jadi hitung-hitungan dengan penghasilan dan pekerjaan yang didapat (bahkan membandingkan dengan penghasilan dari hasil kerja sampingan yang pernah lebih besar dari gaji bulanan). Ya ya, sepertinya saya memang makin kurang bersyukur. Terlalu banyak menuntut dan mengeluh tanpa mencari jalan keluarnya.

Sampai saat ini saya seolah merasa makin nggak paham definisi pekerjaan-apa-yang-sebenarnya-saya-butuhkan. Menekuni pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kemampuan sudah coba saya lakukan. Tapi kemudian muncul lagi prioritas dan kebutuhan-kebutuhan baru. Apakah dalam waktu beberapa tahun ke depan, hidup saya akan begini-begini saja dengan pekerjaan yang semakin lama terasa semakin membuat saya sulit tumbuh dan berkembang? Bagaimana kalau nanti saya sudah berkeluarga dan punya anak, apakah penghasilan saya bakal bisa membantu mencukupi semua kebutuhan mereka dan memberi mereka pendidikan yang lebih baik? Hehe, mungkin mikirnya kurang realistis ya tapi ini serius jadi makin sering saya pikirkan. Soalnya ada saudara yang kewalahan memasukkan anaknya ke PAUD tempat sang istri mengajar karena biaya yang tidak bisa ditanggung, akhirnya anaknya disekolahkan di dekat rumah neneknya yang biayanya lebih murah.

Hampir dua tahun ini saya juga mencoba belajar investasi. Belajar mengelola penghasilan biar nggak habis begitu saja. Bersyukur punya adek yang cukup paham soal keuangan, jadi bisa lebih banyak tahu soal investasi. Meski belum berani nyoba saham, tapi setidaknya sudah bisa rutin menyisihkan sebagian penghasilan untuk reksadana. Walau belum bisa beli rumah sendiri, setidaknya punya dana cadangan kalau ada kebutuhan mendadak.

Muncul ketakutan-ketakutan sendiri. Belajar dari pengalaman bapak yang mengabdikan dirinya selama lebih dari 30 tahun untuk negara tapi di hari pensiunnya masih harus terus berjuang. Di sini jadi muncul kekecewaan pada diri saya sendiri. Saya belum bisa membahagiakan bapak. Belum bisa membantu orangtua mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik, yang lebih nyaman. Bahkan kadang ketika mengajak mereka berlibur, ada rasa sedih, “Cuma segini aja kemampuanku membahagiakan bapak dan ibu?” Ada rasa kecewa belum bisa mengajak mereka liburan yang nyaman. Sedih setiap kali mengajak mereka liburan, saya cuma bisa cari yang murah. Kadang jadi kepikiran untuk cari pekerjaan  yang gajinya lebih besar agar bisa ngajak bapak dan ibuk liburan yang lebih nyaman dan menyenangkan. Membuat mereka bahagia di hari tua mereka.

Soal pekerjaan pun kadang sering membanding-bandingkan hidup diri sendiri dengan teman-teman lain. Ada yang kariernya terus berkembang sampai bisa lanjut PhD. Ada yang sudah punya jabatan. Ada yang lanjut kuliah ke luar negeri dengan membawa serta keluarganya. Ada yang sudah sukses berbisnis. Ada yang sudah bisa membahagiakan kedua orangtuanya. Sementara ketika bercermin, merasa diri ini nggak ada perubahan dan perkembangan. Ya, mungkin saya saja yang nggak mau melakukan sesuatu untuk berubah lebih baik. Cuma kadang saya merasa dikecewakan dengan keadaan (hm, oke ini mungkin saya saja yang cari-cari pembelaan, haha), sudah mencoba melakukan yang terbaik tapi kemudian nggak mendapatkan kenyataan yang sesuai dengan harapan. Makin lama malah makin takut untuk melakukan hal-hal baru. Sudah terlalu capek dikecewakan dan makin nggak peduli lagi sama lainnya.

Tapi saya akan terus berusaha melakukan yang terbaik dari setiap pekerjaan yang ada. Jangan sampai saya malah menyusahkan orang lain dengan pekerjaan yang nggak beres. Jangan sampai saya malah membebani orang lain dengan pekerjaan yang amburadul. Semoga saya juga masih punya cukup waktu dan kekuatan untuk mengembangkan kemampuan dan punya kehidupan yang lebih baik dari setiap pekerjaan yang saya tekuni. Meski kadang merasa sudah membuat pilihan yang salah di pekerjaan, saya harap pilihan ini nggak membuat saya tersesat.

Jadi, pekerjaan apa sebenarnya paling ideal di zaman yang makin bikin mumet ini? 😀

Advertisements

5 thoughts on “Pekerjaan

  1. mbegitulah

    saya juga ngerasain sebagian yang kamu rasain. temen-temen lanjut studi sampai ke luar, ada juga yang berwirausaha dan sukses, ada yang udah jadi pejabat, ada juga yang kerjanya selalu bikin iri temen-temen yang lain. tapi sering saya ngingetin diri sendiri untuk bersyukur sama yang saya punya sekarang. god knows what is best for us 🙂 salam!

  2. Kok related sama postingan ini ya endah 😢 setelah bolak2 ganti kerja…sepertinya yang aku cari sih rasa nyaman. Ada datu titik yang memyadarkanku gaji gede bukan jaminan bikin bahagia 🤣🤣🤣🤣

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.